Tampilkan postingan dengan label obat kelelahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obat kelelahan. Tampilkan semua postingan

Astaxanthin untuk Kesehatan Mata

Dibandingkan dengan anti-oksidan dan karotenoid lainnya, astaxanthin alami  memiliki banyak keuntungan untuk kesehatan mata. Tidak hanya sebagai superantioksidan, astaxanthin juga dapat melintasi penghalang darah-retina untuk memberikan manfaat langsung dan perlindungan kepada organ mata. Tidak semua karotenoid mampu melintasi penghalang darah-retina (blood -retinal barrier) ini.

Retina dan makula dapat menjadi rusak karena kerusakan radikal bebas dari paparan sinar, terutama ketika mata tidak dilindungi oleh tingkat yang cukup dari antioksidan termasuk astaxanthin.

Sementara bagian tubuh lain dapat diperbaiki dengan mudah, retina tidaklah terlalu mudah sembuh dari kerusakan. Penyebab utama kebutaan untuk individu dengan usia lebih dari lima puluh tahun adalah degenerasi makula yang tidak ada obatnya. Astaxanthin dapat membantu melindungi makula dengan menyerap radikal bebas dan menjaga ketebalan dan kesehatan makula. Dengan demikian, melestarikan karunia penglihatan anda.
.
Astaxanthin juga mencegah oksidasi lensa yang merupakan penyebab katarak dan juga mencegah kondisi peradangan lainnya di mata.

Astaxanthin mengurangi ketegangan mata, kelelahan, mata kabur, dan penglihatan ganda; masalah umum yang banyak dialami oleh banyak orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya menatap komputer/layar monitor.

Studi lain menunjukkan bahwa mereka yang mengkonsumsi  astaxanthin alami
meningkatkan ketajaman penglihatan, daya akomdasi mata selain pemulihan lebih cepat dari kelelahan.

Astaxanthin memang nutrisi mata yang luar biasa yang ditunjukkan dengan banyaknya literatur atau uji klinis terkait kesehatan mata.

Berikut referensi klinis terkait fungsi astaxanthin bagi kesehatan mata
  1. Iwasaki & Tawara, (2006). Effects of Astaxanthin on Eyestrain Induced by Accommodative Dysfunction. Journal of Eye (Atarashii Ganka) (6):829-834.
  2.  Suzuki et al., (2006). Suppressive effects of astaxanthin against rat endotoxin-induced uveitis by inhibiting the NF-kB signaling pathway. Exp. Eye Res., 82:275-281.
  3. Nagaki et al., (2006). The supplementation effect of astaxanthin on accommodation and asthenopia. J. Clin. Therap. Med., 22(1):41-54.
  4.  Miyawaki et al., (2005). Effects of astaxanthin on human blood rheology. J. Clin. Therap. Med., 21(4):421-429.
  5. Nitta et al. (2005). Effects of astaxanthin on accommodation and asthenopia � Dose finding study in healthy volunteers. J. Clin. Therap. Med., 21(6):637-650.
  6. Shiratori et al. (2005). Effect of astaxanthin on accommodation and asthenopia � Efficacy identification study in healthy volunteers. J. Clin. Therap. Med., 21(5):543-556.
  7. Takahashi & Kajita (2005). Effects of astaxanthin on accommodative recovery. J. Clin. Therap. Med., 21(4):431-436.
  8.  Nagaki et al. (2005). The effects of astaxanthin on retinal capillary blood flow in normal volunteers. J. Clin. Therap. Med., 21(5):537-542.
  9.  Nakamura et al. (2004). Changes in Visual Function Following Peroral Astaxanthin. Japan J. Clin. Opthal., 58(6):1051-1054.
  10.  Ohgami et al., (2003). Effects of astaxanthin on lipopolysaccharide-induced inflammation in vitro and in vivo. Invest. Ophthal. Vis. Sci., 44(6):2694-2701.
  11.  Nagaki Y., et al., (2002). Effects of astaxanthin on accommodation, critical flicker fusions, and pattern evoked potential in visual display terminal workers. J. Trad. Med., 19(5):170-173.
  12. Sawaki, K. et al. (2002) Sports performance benefits from taking natural astaxanthin characterized by visual activity and muscle fatigue improvements in humans. J. Clin. Ther. Med., 18(9):73-88.
  13. Izumi-Nagai K, Nagai N, Ohgami K, Satofuka S, Ozawa Y, Tsubota K, Ohno S, Oike Y, Ishida S., Inhibition of choroidal neovascularization with an anti-inflammatory carotenoid astaxanthin., Invest Ophthalmol Vis Sci. 2008 Apr;49(4):1679-85.
  14. 14.    Toomey MB, McGraw KJ., Modified saponification and HPLC methods for analyzing carotenoids from the retina of quail: implications for its use as a nonprimate model species., Invest Ophthalmol Vis Sci. 2007 Sep;48(9):3976-82.
  15. 1Parisi V, Tedeschi M, Gallinaro G, Varano M, Saviano S, Piermarocchi S; CARMIS Study Group., Carotenoids and antioxidants in age-related maculopathy italian study: multifocal electroretinogram modifications after 1 year., Ophthalmology. 2008 Feb;115(2):324-333.e2.
  16.  Bhosale P, Serban B, Zhao da Y, Bernstein PS., Identification and metabolic transformations of carotenoids in ocular tissues of the Japanese quail Coturnix japonica., Biochemistry. 2007 Aug 7;46(31):9050-7.
  17. Santocono M, Zurria M, Berrettini M, Fedeli D, Falcioni G., Lutein, zeaxanthin and astaxanthin protect against DNA damage in SK-N-SH human neuroblastoma cells induced by reactive nitrogen species., J Photochem Photobiol B. 2007 Jul 27;88(1):1-10.
  18. 1Suzuki Y, Ohgami K, Shiratori K, Jin XH, Ilieva I, Koyama Y, Yazawa K, Yoshida K, Kase S, Ohno S., Suppressive effects of astaxanthin against rat endotoxin-induced uveitis by inhibiting the NF-kappaB signaling pathway., Exp Eye Res. 2006 Feb;82(2):275-81.
  19. 19.    Bhosale P, Bernstein PS., Microbial xanthophylls., Appl Microbiol Biotechnol. 2005 Sep;68(4):445-55.
  20. hitchumroonchokchai C, Bomser JA, Glamm JE, Failla ML., Xanthophylls and alpha-tocopherol decrease UVB-induced lipid peroxidation and stress signaling in human lens epithelial cells., J Nutr. 2004 Dec;134(12):3225-32.
  21. Waagb� R, Hamre K, Bjerk�s E, Berge R, Wathne E, Lie O, Torstensen B., Cataract formation in Atlantic salmon, Salmo salar L., smolt relative to dietary pro- and antioxidants and lipid level., J Fish Dis. 2003 Apr;26(4):213-29.
  22. Ohgami K, Shiratori K, Kotake S, Nishida T, Mizuki N, Yazawa K, Ohno S., Effects of astaxanthin on lipopolysaccharide-induced inflammation in vitro and in vivo., Invest Ophthalmol Vis Sci. 2003 Jun;44(6):2694-701.
  23. PMID: 12766075 [PubMed - indexed for MEDLINE]11: Related Articles, LinksBell JG, McEvoy J, Tocher DR, Sargent JR.
  24. Depletion of alpha-tocopherol and astaxanthin in Atlantic salmon (Salmo salar) affects autoxidative defense and fatty acid metabolism. J Nutr. 2000 Jul;130(7):1800-8.
  25. Goodwin TW., Metabolism, nutrition, and function of carotenoids., Annu Rev Nutr. 1986;6:273-97.
  26. Lipetz LE., Pigment types, densities and concentrations in cone oil droplets of Emydoidea blandingii., Vision Res. 1984;24(6):605-12.
  27. Goldsmith TH, Collins JS, Licht S., The cone oil droplets of avian retinas., Vision Res. 1984;24(11):1661-71.
  28. Somiya H., 'Yellow lens' eyes of a stomiatoid deep-sea fish, Malacosteus niger., Proc R Soc Lond B Biol Sci. 1982 Jul 22;215(1201):481-9.
  29. Grangaud R, Massonet R, Conquy T, Ridolfo J., [Transformation of astaxanthine into vitamin A in albino rats: neoformation in vivo and in vitro.]. C R Hebd Seances Acad Sci. 1961 Mar 20;252:1854-6. [French]
  30. Massonet R, Conquy T, Grandgaud R., [Transformation in vitro of astaxanthine into vitamin A by the ocular tissue of the rat.] C R Seances Soc Biol Fil. 1961;155:747-50. [French]

Kerusakan Mata pada Orang Lanjut Usia

Penyebab utama masalah mata pada orang lanjut usia adalah faktor umur, yang mana disebabkan oleh oksidasi yang timbul dari cahaya dan dapat mengakibatkan:

1. Katarak : Age related nuclear cataracts (katarak pada inti lensa mata)
(Chitchumroonchokchai et al, 2004)

2. Degenerasi Makula : Age related macular degeneration (AMD) – penglihatan kabur & bisa buta (Guerin et al, 2003; Tso & Lam, 1996)

Astaxanthin sangat baik untuk pencegahan kerusakan mata pada lanjut usia atau sebagai bagian dalam tata laksana pengobatan penyakit akibat kerusakan mata pada orang lanjut usia.

Pure Asta , Antioksidan Terbaik dan Paling Aman

Pure Asta untuk terapi pemulihan kerusakan sel tubuh akibat radikal bebas. Anti penuaan kulit, mengurangi kulit keriput, dan mempercepat penyembuhan jerawat. Menyehatkan mata, melenturkan pembuluh darah, menjaga kebugaran dan meningkatkan sistem pertahanan tubuh.

Pure Asta mengandung bahan aktif Natural Astaxanthin 4 mg (Zanthin) berasal dari mikroalga (Haemustococcus pluvalis).

Astaxanthin adalah karotenoid alami yang memiliki kekuatan antioksidan luar biasa. Astaxanthin bisa ditemukan di mikroalga diseluruh dunia, mulai dari danau tropis sampai padang salju antartika. Astaxanthin adalah yang memberikan warna merah muda dan merah pada daging ikan salmon segar, udang dan lobster. Astaxanthin adalah salah satu dari antioksidan yang paling kuat yang pernah ditemukan.

Pure Asta lebih kuat dibanding vitamin C, vitamin E, Coenzyme Q10, EGCG (Green Tea), Alfa Lipoic Acid, Beta Karoten, Grape Seed.

Kegunaan/manfaat :
  1. Melindungi sel tubuh dari kerusakan.
  2.  Mengurangi resiko penuaan/ awet muda.
  3. Meningkatkan kelembaban, elastisitas kulit.
  4. Mengurangi keriput & jerawat.
  5. Meningkatkan kekuatan penglihatan/ mata.
  6. Mengurangi kelelahan mata.
  7. Meningkatkan kesuburan
  8. Mempercepat proses pertumbuhan sel baru yang sehat.
  9. Meningkatkan daya tahan terhadap virus & bakteri.
  10. Memperbaiki struktur sel & sirkulasi darah.
  11. Melenturkan sistem pembuluh darah bagi usia 35 tahun ke atas sehingga menekan resiko stroke, terutama bagi penderita hipertensi, diabetes dan kolesterol.
  12. Meningkatkan kekuatan dan mengurangi kerusakan otot.
  13. Meningkatkan daya tahan dan kebugaran selama latihan fisik
  14. Meningkatkan kekuatan akar rambut dan mempercepat regenerasi rambut.

Kelebihan Pure Asta :
  • Memiliki efek anti inflamasi.
  • Memperpendek waktu transit darah.
  • Memperbaiki gejala klinis dispepsia tanpa ulkus (ketidaknyamanan lambung yang menahun).
  • Antioksidan teraman tanpa efek pro-oksidan
  • Bekerja dan menembus berbagai membran sel (multifungsi lipofilik & hidrofilik).

Komposisi
Tiap kapsul mengandung : Natural Astaxanthin (Zanthin) 4 mg

Takaran pemakaian umum:
Sehari 1 kali 1 kapsul

Kemasan :
Box, 3 strip @ 10 kapsul
POM SD 101 340 131


Astaxanthin, Antioksidan Superior Yang Mengagumkan

Astaxanthin adalah antioksidan yang merupakan salah satu kelompok pigmen natural dari karotenoid. Di alam karotenoid dihasilkan sebagian besar oleh tanaman dan golongan mikroskopiknya yaitu mikroalgae. Astaxanthin terbanyak dihasilkan oleh mikroalgae Haematococcus pluvialis. Sumber lain adalah hasil fermentasi ragi merah muda Xanthophyllomyces dendrorhous atau ekstrak dari produk pigmen seperti udang Antarctic krill (Euphausia superba). Selain dari alam astaxanthin juga dapat dihasilkan sintetis kimia, dan banyak digunakan sebagai makanan ikan. Astaxanthin memiliki molekul yang sama dengan famili karotenoid beta-karoten, tetapi sangat berbeda pada struktur kimia dan biologi. Astaxanthin menunjukkan potensi antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beta-karoten pada penelitian di laboratorium (Cysewski dan Lorenz, 2000).
Astaxanthin merupakan pigmen karotinoid merah yang ada pada banyak mahluk hidup. Penelitian pada binatang menunjukan bahwa astaxanthin mempunyai efek antioksidan yang dapat mencegah kerusakan otot karena pelatihan, astaxanthin mengurangi kerusakan otot secara umum dan otot jantung yang disebabkan oleh pelatihan, efek anti kanker, dan efek anti peradangan. Astaxanthin juga mempunyai efek antidiabetik, meningkatkan daya tahan tubuh, anti hipertensi dan neuroprotektif pada percobaan pada binatang (Heuer , 2007).

Astaxanthin mempunya dua gugus karbonil, 11 gugus ethyl ganda dan dua gugus hidroksi yang memungkinkan terjadinya esterifikasi (Higuera-Ciapara dkk, 2006).

Struktur molekul Astaxanthin menyebabkan aktivitas biologinya berbeda dari antioksidan lain atau karotinoid. Astaxanthin termasuk dalam kelompok karotinoid yang dikenal dengan xantofil, atau karotinoid teroksigenasi. Xantofil merupakan puncak dari aktivitas piramid karotinoid dan Astaxanthin berada di atas xantofil.

Struktur molekul Astaxanthin membuatnya menjadi antioksidan superior, tetapi juga fungsinya yang melibatkan banyak mekanisme untuk melindung membran sel, melindungi sistem kekebalan, dan melindungi dari proses degenerasi secara umum. Struktur molekul astaxanthin menyerupai beta karoten, walau mempunyai banyak kelebihan. Astaxanthin mempunyai 13 rantai ganda terkonjugasi, yang menyebabkannya mempunyak kapasitas antioksidan lebih baik dari pada beta karoten yang mempunya 11 rantai ganda.

Astaxanthin mempunya kelompok OXO pada 4 dan 4 posisi prime pada lingkar cyclohexene yang kemudian juga secara signifikan meningkatkan aktivitas antioksidannya. Akhirnya, Astaxanthin mempunya gugus hidroksil pada 3 dan 3 posisi prime, yang membuat molekulnya sangat polar. Kombinasi dari modifikasi tersebut secara dramatis meningkatkan aktivitas fungsi membran dan aksi mekanisme lainnya untuk melindungi dari kondisi degeneratif, yang tidak ditemukan pada antioksidan lain (Higuera-Ciapara dkk, 2006).

Astaxanthin menunjukan aktivitas antioksidan terkuat diantara karotinoid. Astaxanthin mempunyai aktivitas penghilang oxygen tunggal yang sangat kuat diantara antioksidan lain karena kestabilan molekulnya. Astaxanthin banyak terdapat pada ikan, kerang-kerangan, crustacean, zoo dan phytoplankton, bakteri dan lain-lain, terutama organisme laut (Hashimoto dkk, 2007).

Pada penelitian Malmsten dan Lignell (2008), didapatkan bahwa diet tinggi kandungan astaxanthin meningkatkan kekuatan melakukan pelatihan endurans. Penelitian tersebut dilakukan pada para siswa paramedik, di mana kelompok yang diteliti diberikan capsul astaxanthin 4 mg sekali sehari dan kelompok kontrol diberi placebo. Setelah 6 bulan, terjadi peningkatan kemampuan lutut dalam melakukan gerakan jongkok pada kelompok yang mendapat astaxanthin 3 kali lebih kuat dari pada kelompok kontrol. Namun tidak ada parameter lain yang diteliti pada penelitian tersebut.

Aoi dkk (2003), melakukan penelitian tentang astaxanthin membatasi terjadi kerusakan otot dan otot jantung yang dikarenakan pelatihan pada tikus. Diet tinggi antioksidan akan menurunkan kerusakan oksidatif berbagai jaringan pada pelatihan berat. Penelitian tersebut mengamati efek pemberian astaxanthin terhadap kerusakan oksidatif yang terjadi pada otot paha dan otot jantung tikus yang diakibatkan oleh pelatihan berat. Penelitian dilakukan selama 3 minggu dengan membandingkan kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakukan,kelompok mendapat perlakuan pelatihan berat, dan kelompok mendapat perlakuan pelatihan berat dan mendapat astaxanthin. Terjadinya peningkatan Creatine Kinase dan aktivitas mieloperoksidase pada otot paha dan jantung yang lebih rendah pada kelompok yang menggunakan Astaxanthin. Terlihat astaxanthin menumpuk pada otot paha dan jantung setelah 3 minggu perlakuan. Astaxanthin dapat menurunkan kerusakan pada otot dan jantung tikus yang disebabkan oleh pelatihan berat dan termasuk infiltasi neutrophil yang dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut. 

Pada penelitian ini dilakukan perbandingan 3 kelompok yaitu kelompok kontrol di mana tikus tidak diberi perlakuan, kelompok yang mendapat perlakuan pelatihan berlari pada kecepatan 28m/menit sampai terjadi kelelahan, dan kelompok dengan perlakuan yang sama dan diberi astaxanthin selama 3 minggu, didapatkan terjadi pada kelompok yang mendapat perlakuan pelatihan berat terjadi peningkatan 4-hydroxy-2-nonenal-modified protein and 8-hydroxy-2'-deoxyguanosine dan juga terjadi peningkatan aktifitas creatin kinase plasma dan aktivitas myeloperoxidase pada otot gastrocnemius dan jantung, dan pada kelompok yang diberikan astaxanthin terjadi penurunan efek pelatihan berat tersebut. Terjadi penumpukan Astaxanthin pada otot jantung dan gastrocnemius pada pemakaian selama 3 minggu. Astaxanthin menurunkan efek kerusakan otot jantung dan otot gastrocnemius yang dikarenakan pelatihan berat.

Penelitian terkini dilakukan untuk menentukan efek astaxanthin terhadap kapasitas endurans pada tikus laki-laki yang berumur 4 minggu. Astaxanthin diberikan secara oral (dengan dosis 1,2 , 6 dan 30 mg/kg berat badan) dengan intubasi lambung selama 5 minggu. Pada kelompok astaxanthin menunjukan peningkatan waktu renang yang meningkat sebelum terjadinya kelelahan di banding kelompok kontrol. Kadar laktat darah pada kelompok astaxanthin lebih rendah secara bermakna dibanding kelompok kontrol, Astaxanthin juga menurunkan penumpukan lemak secara bermakna. Hasil tersebut mengarahkan bahwa peningkatan kemampuan berenang dengan pemberian astaxanthin disebabkan karena peningkatan penggunaan asam lemak sebagai sumber tenaga (Ikeuchi dkk, 2006)

Penelitian terhadap efek astaxanthin pada tanda kerusakan otot pada pelatihan resisten eksentrik dilakukan pada 20 orang yang melakukan pelatihan beban sebanyak 10 set dengan 10 repetisi dengan beban 85% dari satu repetisi maksimal. Hasil dari penelitian tersebut tidak menunjukan adanya perbedaan kenyerian pada otot, kadar Creatine Kinase dan kemampuan otot yang diukur pada kelompok pelatihan beban dan pelatihan beban dengan memakai astaxanthin (Bloomer dkk, 2005).

Penelitian terhadap efek astaxanthin terhadap metabolisme lemak pada pelatihan, pada tikus berumur 8 minggu yang dibagi menjadi 4 kelompok, tidak mendapat perlakuan, perlakuan dengan pemberian astaxanthin, perlakukan dengan pelatihan berlari, dan pelatihan berlari dengan pemberian astaxanthin. Astaxanthin meningkatkan penggunaan lemak selama pelatihan dibanding dengan tikus dengan diet normal dengan peningkatan masa berlari sampai terjadi kelelahan. Terlihat bahwa pemberian astaxanthin menurunkan laju penumpukan lemak tubuh dengan pelatihan. Hasil penelitian tersebut menunjukan astaxanthin memicu metabolisme lemak dibanding penggunaan glukosa selama pelatihan melalui aktivasi CPT 1, yang akan meningkatkan kemampuan endurans dan penurunan jaringan lemak lebih efisien pada pelatihan (Aoi dkk, 2007).

Karppi (2005), melakukan penelitian tentang efek suplementasi astazanthin terhadap lipid peroksidase. Dilakukan pengamatan terhadap efek penggunaan astaxanthin selama 3 bulan terhadap lipid peroksidase pada pria berumur 19 – 33 tahun yang bukan perokok, juga diteliti penyerapan astaxanthin dalam bentuk kapsul ke peredaran darah dan juga keamanan dari penggunaan astaxanthin tersebut. Hasil penelitian menunjukan penyerapan astaxantin di usus dalam bentuk kapsul adekuat dan ditoleransi dengan baik. Suplementasi astaxanthin juga menurunkan oksidasi asam lemak secara in vivo pada pria sehat (Karppi, 2005).

Asupan antioksidan berulang mungkin dapat mencegah katabolisme musculoskeletal yang disebabkan karena kurangnya nutrisi tertentu, pelatihan yang berlebihan, stres karena overtraining, dapat mencegah dan memperbaiki atropi otot dan penggunaan protein otot yang disebabkan salahnya pengunaan, seperti pada cidera otot, immobilisasi atau tirah baring yang lama, dan proses penuaan yang berhubungan dengan berkurangnya massa otot dan kekuatan.

Juga akan terjadi peningkatan aktivitas transportasi creatine pada sel otot dan saraf, memperbaiki metabolism gula di serat otot, dan meningkatkan kapasitas kerja musculoskeletal. Diyakini asupan suplementasi yang mengandung antioksidan dapat mencegah dan membantu terapi terhadap kondisi neurodegenarasi seperti Amyotrophic Lateral Sclerosis, Huntington’s Disease dan Parkinson Disease juga menurunkan kejadian kerusakan karenya penyempitan pembuluh darah otak pada pasien denga resiko tinggi terkena stroke. Pada keadaan tersebut, diet dan suplementasi bisa membantu mempertahankan kontraksi otot dan mempertahankan fungsi saraf otot.

Nutrisi yang tepat merupakan faktor penting untuk meningkatkan performa atlet secara efektif, pemulihan setelah pelatihan dan mencegah cidera. Nutrisi tambahan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin dan mineral telah digunakan secala luas di berbagai cabang olahraga dengan dosis yang lebih tinggi dari kebutuhan sehari-hari. Beberapa unsur makanan memberikan efek fisiologis, dan beberapa diyakini berguna untuk meningkatkan performa pelatihan ataupun untuk mencegah cidera. Akan tetapi, jenis makanan seperti ini harus digunakan berdasarkan bukti ilmiah yang jelas dan dengan pemahaman dari perubahan fisiologis yang disebabkan oleh pelatihan (Wataru dkk, 2006).

Dikarenakan latar belakang sosial dan juga pola makan, dan meningkatnya biaya perawatan medis, terjadi peningkatan terhadap upaya menjaga kesehatan dan minat terhadap makanan sehat. Pada tahun tahun terakhir, banyak jenis makanan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dapat dievaluasi secara ilmiah untuk menentukan efeknya terhadap pencegahan beberapa penyakit. Pada dunia olah raga, terdapat bermacam makanan tambahan yang tersedia, tetapi diantara makanan tersebut, beberapa tidak dapat dibuktikan khasiatnya dan yang lainnya melakukan promosi yang tidak benar, hal ini membingungkan konsumen. Karena itu diperlukan evaluasi dan penelitian lebih lanjut secara ilmiah sebelum makanan tambahan tersebut digunakan sebagai makanan tambahan yang berguna untuk menunjang efek dari berolah raga.

Aoi dkk (2003) pada penelitiannya menyatakan bahwa pelatihan aerobik yang intensif akan mengakibatkan produksi ROS dengan berbagai mekanisme. Pelatihan ini memacu oksidasi ROS pada protein, lipid dan DNA yang menyebabkan kerusakan otot, jantung dan hati. Juga ditemukan respon peradangan sekunder yang terjadi pada kerusakan otot lebih lanjut yang dipicu oleh pembentukan ROS. Pada penelitian sebelumnya juga menunjukan bahwa antioksidan seperti Vitamin E, C dan karotenoid dapat menurunkan kerusakan oksidatif.

Penelitian yang lebih baru menunjukkan terjadinya respon peradangan yang dipicu oleh pembentukan ROS intrasel, yang meningkatkan aktivitas dari faktor transkripsi dari redox-sensitive tertentu. Nuclear factor - кB (NF-кB) dan Activator protein-1 (AP-1) merupakan faktor transkripsi khusus yang dikontrol oleh ROS yang meregulasi ekspresi gen untuk kemokin, peradangan sitokin dan adhesi molekul. Sebagai respon terhadap mediator ini, fagosit menginfiltrasi ke dalam jaringan, di mana sel ini memicu proteolisis, perusakan ultrastruktur, dan kerusakan oksidatif lebih lanjut. ROS, tidak hanya menyebabkan kerusakan oksidatif secara langsung, juga menyebabkan kerusakan lebih lanjut karena proses peradangan. Proses peradangan ini meningkat pada otot dan otot jantung dikarenakan stres oksidatif (Aoi dkk, 2007).

Karena itu, kerusakan otot tertunda setelah pelatihan, termasuk kerusakan oksidatif, dipicu oleh proses peradangan, kerusakan dan infiltrasi neutrofil muncul bersamaan setelah penundaan, tidak terjadi segera setelah pelatihan. Antioksidan diduga dapat menginaktivasi faktor transkripsi, menurunkan ekspresi dari mediator peradangan dan mencegah infiltrasi neutrofil.

Astaxanthin, adalah antioksidan superior untuk kesehatan yang optimal. Maafaatnya yang mengagumkan sangat layak disarankan untuk dikonsumsi anda semua.

Daftar Pustaka :
  1. Abramson, J.L. and Vaccarino, V. 2002. Relationship Between Physical Activity and Inflammation Among Apparently Healthy Middle-aged and Older US Adults. Arch Intern Med Vol. 162 No. 11, June 10, 2002. p:1286-1292.
  2. Aoi, W., Naito, Y., Sakuma, K. 2003. Asthaxanthine limits exercise-induced skeletal and cardiac muscle damage in mice. Antioxidants and Redox Signaling. Volume 5. Number 1.
  3. Aoi, W., Naito, Y., Takanami, Y., Ishii, T. 2007. Astaxanthin Improves Muslce Lipid Metabolism in Exercise Via Inhibitory Effects of Oxidative CPT I Modification. Biochemical and Biophysical Research Communication. Vol,. 366. P 892-897.
  4. Archambault, S. 2000. Independent Samples T Test. Available from: http://www.wellesley.edu/psychology.psych205/indepttest.html. Accessed June 12,2010.
  5. Beers, M. 2004. The Merck Manual of Health & Aging. New York : Balantine. P 901-914.
  6. Bell, J. 2008. The Book of Personal Training. International Fitness Professionals Association. p 331-337.
  7. Bloomer, R.J., Fry, A., Schilling, B. 2005. Astaxanthin supplementation does not attenuate muscle injury following eccentric exercise in resistance-trained men. International Journal of Sport Nutrition and Exercise Metabolism. 2005 Agustus. Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16286671. Accessed 14 January 2009.
  8. Bloomer, R.J. 2007. The role of nutritional supplements in the prevention and treatment of resistance exercise-induced skeletal muscle injury. Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17503877. Accessed August 21, 2010.
  9. Capelli, B., Cysewski, G. 2006. Natural Astaxanthin : King of the Carotenoids. Cyanotect Corporation. 2006, p 93.
  10. Clarkson,P.M., Hubal,M.J. 2002. Exercise-Induced Muscle Damage in Humans. Available from : http://journals.lww.com/ajpmr/pages/articleviewer.aspx?year=2002&issue=11001&article=00007&type=abstract. Accessed November 18, 2009.
  11. Clarkson,P.M., and Thompson, H.S. 2000. Antioxidants: what role do they play in physical activity and health?. Am J Clin Nutr 2000;72(suppl):637S–46S. 81
  12. Cunha, G.S., Ribeiro, J.L. Oliveira,A.R. 2006. Overtraining: theories, diagnosis and markers. Rev Bras Med Esporte .Vol. 12, Nº 5.
  13. Cysewski, G.R. and Lorenz, R.T. 2000. Commercial potential for Haematococcus Microalgae as a natural source of astaxanthin. Trend In Biotechnology. 2000. Vol. 18. p 160-167.
  14. Darren, E.R., Warburton, Nicol, C.W., Bredin S.D. 2006. Health benefits of physical activity: the evidence. Canadian Medical Association Journal CMAJ • March 14, 2006.
  15. Dimitrov, D. M. and Rumrill, P. D. Jr . 2003. Pretest-posttest designs and measurement of Change. Speaking of Research, Work 20 (2003) 159–165. Available from : http://cehd.gmu.edu/assets/docs/faculty_publications/dimitrov/file5.pdf. Accessed December 22, 2011.
  16. Ebbeling, C.B. 2003. Exercise-induced muscle damage and adaptation. Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2657962. Accessed November 18,2009.
  17. Elstein, M. 2005. You Have The Power. Australia : Dr. Michael Eilstein. p 91-93.
  18. Eritsland, J. 2000. Safety considerations of polyunsaturated fatty acids. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 71, No. 1, 197S-201S, January 2000.
  19. Gledhill, N., Jamnick, V. 2003. The Canadian Physical Activity, Fitness and Lifestyle Approach. CSEP-Health and Fitness Program Health-Related Appraisal and Counseling Strategy, 3rd Editiion, Available from : http://www.sirc.ca/publishers/publication.cfm?publicationid=252&publisherid=65. Accessed 18 May 2010.
  20. Gleeson, M. 2002. Biochemical and Immunological Markers of Overtraining.Journal of Sports Science and Medicine (2002) 1, p. 31-41.
  21. Goldman, R. 2007. The New Anti-Aging Revolution. Australasian Edition. Malaysia : Advantage Quest Pubilications. p 15- 17.
  22. Grobler, L., Collins, M., Lambert, M. 2004a. Remodelling of skeletal muscle following exercise-induced muscle damage. International SportMed Journal. Vol.5 No.2.
  23. Grobler, L.,Collins, M., Lambert, M., Sinclair-Smith, C. 2004b. Skeletal muscle pathology in endurance athletes with acquired training intolerance. Br J Sports Med. 2004. Vol. 38. p. 697–703. 82
  24. Harnish,C. 2009. The Underperformance Syndrome: Beyond overtraining. Available from : http://thinkfastmovefaster.com/information/articles/308-the-underperformance-syndrome-beyond-overtraining. Accessed August 21, 2010.
  25. Harman, D. 2004. The Free Radical Theory of Aging. Antioxidants & Redox Signaling. Volume: 5 Issue 5: July 5, 2004.
  26. Hartmann, U., Mester,J. 2000. Training and overtraining markers in selected sport events. Med. Sci. Sports Exerc., Vol. 32, No. 1, p. 209-215, 2000.
  27. Hashimoto, H., Kazuhiro, Y., Masayuki, Y. 2007. Carotinoid Science. An Interdiciplinary Journal of Research of Carotinoid. Vol. 11.
  28. Haskell, W.L., Lee, I. M., Pate, R. R., , Powell, K.E.,Blair, S. N., Franlin, B. A., Macera, C. A., Heath, G. W., Thompson, P. D., Bauman A. 2007. Physical Activity and Public Health: Updated Recommendation for Adults from the American College of Sports Medicine and the American Heart Association. Medicine & Science in Sport & Exercise. Available from : http://walking.about.com/gi/o.htm?zi=1/XJ&zTi=1&sdn=walking&cdn=health&tm=99&f=10&su=p284.12.336.ip_p674.8.336.ip_&tt=2&bt=0&bts=0&zu=http%3A//www.acsm.org/AM/Template.cfm%3FSection%3DHome_Page%26Template%3D/CM/ContentDisplay.cfm%26ContentID%3D7788. Accesses October 24, 2011..
  29. Kehrer, J.P. 2000. The Haber-Weiss reaction and mechanisms of toxicity. Toxicology. 2000 Aug 14;149(1), p:43-50.
  30. Heuer, M. 2007. Dietary supplement for enhancing skeletal muscle mass, decreasing muscle protein degradation, downregulation of muscle catabolism pathways, and decreasing catabolism of muscle cells. Available from http://images2.freshpatents.com/pdf/US20070015686A1.pdf. Accessed 21 January 2011.
  31. Higuera-Ciapara, I, Félix-Valenzuela, L, Goycoolea F.M. 2000. Astaxanthin: a review of its chemistry and applications. 2006. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(2):185-96.
  32. Ikeuchi, M., Koyama, T., Takahashi, J., Yazawa, K. 2006. Effects of Astaxanthin Supplementation on Exercise-Induced Fatigue in Mice. Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17015959. Accessed August 21,2010. 83
  33. Iorio, E.L. 2007. The Measurement of Oxidative Stress. International Observatory of Oxidative Stress, Free Radicals and Antioxidant Systems. Special supplement to Bulletin Vol. 4. No 1.
  34. Karppi,. 2005. Effects of Astaxanthin Supplementation on Lipid Peroxiodation. International Journal for Vitamin and Nutrition Research. 2007 Jan;77(1):3-11.
  35. Kusumawati, D. 2000. Bersahabat dengan Hewan Coba. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
  36. Lee, I.M, Paffenbarger, R.S. 2000. Associations of Light, Moderate, and Vigorous Intensity Physical Activity with Longevity. The Harvard Alumni Health Study. Am. J. Epidemiol. (2000) 151 (3): 293-299.
  37. Leeuwenburgh, C., Heinecke, J.W. 2001. Oxidative Stress and Antioxidants in Exercise. Current Medicinal Chemistry 2001, 8, 829-838 829
  38. Lehmann, M. 1998. Autonomic Imbalance Hypothesis and Overtraining Syndrome. Med. Sci. Sport Exerc., Vol 30, No. 7, p 1140-1145.
  39. Malmsten, C.L., Lignell, A. 2008. Dietary Supplementation with Astaxanthin-Rich Algal Meal Improves Strength Endurance – A Double Blind Placebo Controlled Study on Male Students. Carotenoid Science, Vol.13, 2008.
  40. Oliveira, A.R., Schneider, C., Ribeiro, J.L., Deresz, L.F., Barp J., Belló-Klein A. 2003. Oxidative stress after three different intensities of running. Med Sci Sports Exerc. 2003; 35:S367.
  41. Pangkahila, W. 2007. Anit-Aging Medicine. Jakarta : PT. Gramedia. p 107-114.
  42. Park, J.S., Chyun, J.H., Kim, Y.K., Line L.L., Chew, B.P. 2010. Astaxanthin decreased oxidative stress and inflammation and enhanced immune response in humans. Available From : http://www.nutritionandmetabolism.com/content/7/1/18. Accessed August 18, 2011.
  43. Petibois, C., Cazorla, G., Jacques-Rémi, P., Déléris, G. 2000. Biochemical Aspects of Overtraining in Endurance Sports A Review. Sports Med 2002; 32 (13): 867-878.
  44. Pidcock, J. 2003.How carbohydrate can help to protect against muscle damage"
  45. Pocock, 2008. Clinical Trial. John Wiley and Sons. p 123-128. 84
  46. Radak, Z, Taylor, A.W., Ohno, H., Goto, S. 2001. Adaptation to exercise-induced oxidative stress: from muscle to brain. Exerc Immunol Rev. 2001;7:90-107.
  47. Reagan-Shaw, S., Nihal,M., Ahmad, N. 2007. Dose translation from animal to human studies revisited. The FASEB Journal • Life Sciences Forum. Vol 22. March 2007.
  48. Rees, D. 2001. Essential Statistics. 4th ed. London: Chapman & Hall. p. 258.
  49. Reynolds, G. 2010. Phys Ed: Free the Free Radicals. Available from : http://well.blogs.nytimes.com/2010/10/06/phys-ed-free-the-free-radicals/. Accessed October 24, 2011.
  50. Rokyta, R, Stopka, P, Holecek, V, Krikava, K, Pekárková, I. 2004. Direct measurement of free radicals in the brain cortex and the blood serum after nociceptive stimulation in rats. Neuroendocrinology Letters No.4 August Vol.25, 2004
  51. Schoonjans, F. 2008. MedCalc. Available from: http://www.medcalc.be/manual/ mannwhitney.php. Accessed June 12, 2010.
  52. Schneider, C.D., Barp, J., Ribeiro, J.L., Belló-Klein A., Oliveira, A.R. 2005. Oxidative stress after three different intensities of running. Can J Appl Physiol. 2005;30(6):723-34.
  53. Tidball, J.G. 2005. Inflammatory processes in muscle injury and repair. Available from : http://ajpregu.physiology.org/cgi/content/abstract/288/2/R345. Accessed July 12,2009.
  54. Urso, M.L, Clarkson, P.M. 2003. Oxidative stress, exercise, and antioxidant supplementation. Environmental and Nutritional Interactions Antioxidant Nutrients and Environmental Health. Volume 189, Issues 1-2, 15 July 2003, Pages 41-54.
  55. Wataru, A., Naito,Y., Yoshikawa, T. 2006. Exercise and functional foods. Available from : http://www.nutritionj.com/content/5/1/15. Aceessed July 20,2009.
  56. Weisstein, E. 2008. Wilcoxon Signed Rank Test. Available from: http://mathworld.wolfram.com/WilcoxonSignedRanktest. Accessed June, 2010.
  57. William, J.E. 2000. Vitamin E, vitamin C, and exercise. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 72, No. 2, 647S-652s, August 2000
(dikutip dari RISTIE DARMAWAN dalam ASTAXANTHIN MENCEGAH EFEK NEKROSIS DAN PERADANGAN OTOT PADA TIKUS YANG MENGALAMI OVERTRAINING, Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik, Program Pascasarjana Universitas Udayana, 2012)

Stres Oksidatif, Anti Oksidan dan Latihan

Stres Oksidatif adalah keadaan patologis yang disebabkan oleh kerusakan sel dan jaringan didalam tubuh karena peningkatan jumlah radikal bebas yang tidak normal. Stres oksidatif merupakan akibat langsung dari peningkatan radikal bebas dan atau menurunnya aktifitas fisiologi antioksidan dalam melawan radikal bebas.

Radikal bebas merupakan atom tunggal atau berkelompok yang sedikitnya mempunyai satu orbit terluar yang mempunyai satu elektron tunggal (tidak berpasangan) di mana seharusnya mempunyai elektron berpasangan.

Antioksidan adalah unsur kimia atau biologi yang dapat menetralisasi potensi kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas tadi. Beberapa antioksidan endogen (seperti enzim superoxide-dismutase dan katalase) dihasilkan oleh tubuh, sedangkan yang lain seperti vitamin C dan E merupakan antioksidan eksogen yang harus didapat dari luar tubuh seperti buah-buahan dan sayur-sayuran (Iorio, 2007).

Apakah suplementasi antioksidan perlu bagi individu yang melakukan pelatihan teratur ? Alasan ini muncul karena terjadi peningkatan radikal bebas selama pelatihan.

Radikal bebas adalah molekul yang mengandung satu electron tidak berpasangan pada orbit terluarnya. Selama metabolism oksidatif, banyak oksigen yang dikonsumsi akan terikat pada hydrogen selama fosforilasi oksidatif, kemudian membentuk air. Akan tetapi, diperkirakan bahwa 4-5% oksigen yang dikonsumsi saat bernapas tidak diubah menjadi air, tetapi akan membentuk radikal bebas. Maka, konsumsi oksigen akan meningkat selama pelatihan, juga akan terjadi peningkatan produksi radikal bebas dan peroksidasi lipid, yang kemudian radikal bebas tadi akan menimbulkan respon inflamasi dan menyebabkan kerusakan otot setelah pelatihan. Tubuh mempunyai sistem pertahanan antioksidan yang tergantung dari asupan vitamin, antioksidan dan mineral dan produksi antioksidan endogen seperti glutation. Vitamin C dan E dan beta karoten adalah antioksidan dan vitamin utama. Tidak diketahui pasti apakah sistem pertahanan antioksidan natural tubuh cukup untuk melawan peningkatan radikal bebas saat pelatihan ataukah perlu suplementasi tambahan (Clarkson dan Thompson, 2000).

Polyunsaturated Fatty Acid (PUFAs) banyak terdapat di membrane sel dan pada low-density-lipoprotein (LDL). Radikal bebas lebih sering mengambil elektron dari selaput lemak dari sel, yang disebut dengan lipid peroksidasi. ROS mengarahkan ikatan karbon ganda pada PUFAs. Ikatan ganda karbon tersebut akan melemahkan ikatan carbon – hydrogen sehingga mempermudah pengambilan hydrogen oleh radikal bebas. Radikal bebas akan mengambil elektron tunggal dari hydrogen yang berikatan dengan karbon pada ikatan ganda. Akibatnya, akan ada karbon yang tidak berpasangan dan menjadi radikal bebas. Dalam upaya menstabilkan radikal bebas dengan pusat karbon maka terbentuk molekul pengatur. Molekul pengatur tersebut dikenal dengan conjugated diene (CD). CD ini dengan mudah akan beraksi dengan oksigen untuk membentuk radikal proxy. Radikal proxy ini akan mengambil elektron dari molekul lipid lainnya dalam prosel propagasi sel. Proses ini berkelanjutan dalam suatu rantai reaksi. (Eritsland, 2000).

Ada banyak jenis radikal bebas di dalam tubuh antara lain adalah radikal bebas dengan pusat gugus oksigen atau ROS. ROS yang paling umum adalah : anion superoksida (O2-), radikal hidroksil (OH), oksigen tunggal (1O2) dan hydrogen peroksida (H2O2). Anion superoksida terbentuk ketika oksigen membutuhkan tambahan elektron, meninggalkan molekul yang tidak berpasangan. Di dalam mitokondria O2- terus dibentuk. Tingkat pembentukkannya tergantung dari jumlah oksigen yang mengalir melalui mitokondria pada waktu tersebut. Radikal hidroksil mempunyai waktu hidup singkat, tetapi merupakan radikal yang paling merusak dalam tubuh. Jenis radikal ini dibentuk dari O2- dan H2O2 melalui reaksi Harber-Weiss. Interaksi antara tembaga dan besi dan H2O2 juga memproduksi OH. Reaksi ini secara signifikan ditemukan di dalam tubuh dan dapat berinteraksi dengan mudah. Hidrogen peroksida diproduksi secara in vivo oleh banyak reaksi.

Hidrogen peroksida merupakan unsur yang unik karena dapat berubah menjadi radikal hidroksil yang sangat merusak atau dapat juga dikeluarkan sebagai air yang tidak berbahaya. Gluthation peroksidase merupakan faktor penting untung mengubah glutation menjadi glutation oksida, pada saat H2O2 diubah menjadi air. Jika H2O2 tidak diubah menjadi air, 1O2 akan dibentuk. Oksigen tunggal bukanlah radikal bebas, tetapi dapat dibentuk selama reaksi radikal dan juga dapat menyebabkan reaksi orbit kosong yang mempunyai energi sama. Ketika oksigen yang bertenaga menempel pada orbit yang kosong tadi akan menyebabkan elektron yang tidak berpasangan. Kemudian oksigen tunggal dapat mentransfer energi ke molekul yang baru dan berperan sebagai katalis pada pembentukan radikal bebas. Molekul tersebut juga bisa berinteraksi dengan molekul lain dan mengakibatkan pembentukan radikal bebas baru (Kehrer, 2000).

Radikal bebas mempunya waktu paruh hidup yang singkat, yang membuat mereka sulit untuk diukur di laboratorium. Banyak metode pengukuran yang tersedia sekarang ini, tiap pengukuran mempunyai keunggulan dan keterbatasan. Radikal bebas dapat diukur dengan menggunakan Electron Paramagnetic (Spin) Resonance Spectroscopy (EPR/ESR) dan Spin Trapping Method. Kedua metode sangat memuaskan dan bahkan dapat menangkap radikal bebas dengan waktu paruh hidup terpendek (Rokyta dkk, 2004).

Pada keadaan normal (saat istirahat) sistem pertahanan antioksidan di dalam tubuh dapat secara mudah mengatasi radikal bebas yang terbentuk. Selama waktu terjadi peningkatan pemakaian oksigen (contohnya saat pelatihan) produksi radikal bebas dapat berlebihan dan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid. Radikal bebas diyakini berperan menyebabkan penyakit kardiovaskular, kanker, Penyakit Alzheimer dan Parkinson (Capelli dan Cysewski, 2006).
Pemakaian oksigen meningkat banyak selama pelatihan, di mana menyebabkan peningkatan terbentuknya radikal bebas. Tubuh akan melawan peiningkatan radikal bebas tersebut dengan sistem pertahanan antioksidan. Ketika produksi radikal bebas melebihi kemampuan mengatasinya maka kerusakan oksidatif akan terbentuk. Radikal bebas yang terbentuk selama pelatihan kronik dapat melebihi kapasitas proteksi sistem antioksidan, akan membuat imunitas terhadap penyakit menurun dan cidera. Karena itu dibutuhkan suplementasi antioksidan.

Radikal bebas menyerang membran dan merusak sel di mana dibutuhkan sistem kekebalan untuk melawannya. Jika pembentukan radikal bebas dan penyerangannya tidak dikendalikan di dalam otot selama pelatihan, maka otot dalam jumlah besar dapat dengan mudah menjadi rusak. Kerusakan otot dapat mempengaruhi performa dikarenakan terjadinya kelelahan. Salah satu langkah pertama dalam pemulihan kerusakan otot yang disebabkan pelatihan adalah dengan respon anti inflamasi dari daerah otot yang rusak. Radikal bebas sering berhubungan dengan respon inflamasi dan diperkirakan terjadi paling banyak 24 jam setelah selesai melakukan pelatihan berat. Jika teori ini benar maka antioksidan berperanan besar dalam mencegah kerusakan tersebut. Ada penelitian yang mengungkap semakin banyak aktivitas fisik berhubungan dengan menurunnya peningkatan kejadian peradangan pada orang dewasa sehat berumur diatas 40 tahun di Amerika. Hasil menunjukan hubungan antara aktivitas fisik dan menurunnya resiku penyakit jantung coroner yang diakibatkan oleh efek anti peradangan yang terbentuk saat aktivitas fisik (Abramson dan Vaccarino, 2002 ).

Radikal bebas secara alami dibentuk oleh sistem di dalam tubuh dan mempunyai efek yang menguntungkan yang tidak disadari. Sistem kekebalan merupakan sistem utama tubuh yang menggunakan radikal bebas. Serangan benda asing ataupun kerusakan jaringan yang ditandai dengan radikal bebas oleh sistem kekebalan. Hal tersebut menunjukkan jaringan mana yang perlu dikeluarkan dari tubuh. Karena itulah kebutuhan suplementasi antioksidan dipertanyakan, kemungkinan suplementasi akan menurunkan efektivitas dari kekebalan tubuh, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk itu.

Antioksidan bekerja dengan melindungi lipid dari proses peroksidasi oleh radikal bebas. Ketika radikal bebas mendapat elektron dari antioksidan, maka radikal bebas tersebut tidak ladi perlu menyerang sel dan reaksi rantai oksidasi akan terputus. Setelah memberikan elektron, antioksidan menjadi radikal bebas secara definisi. Antioksidan pada keadaan ini tidak berbahaya karena mereka mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan elektron tanpa menjadi reaktif. Tubuh manusia mempunya pertahanan sistem antioksidan. Antioksidan yang dibentuk di dalam tubuh dan juga didapat dari makanan seperti buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, daging dan minyak. Ada dua garis pertahanan antioksidan di dalam sel. Garis pertahanan pertama, terdapat di membrane sel larut lemak yang mengandung vitamin E, beta karoten dan koensim Q (10). (Clarkson dan Thompson, 2000).

Tubuh dalam keadaan normal akan memproduksi radikal bebas yang berhubungan dengan metabolism sel fisiologis. Contohnya, sintesis beberapa hormon akan menghasilkan radikal bebas, juga lekosit polimorfonukleus akan membentuk radikal bebas untuk membunuh bakteri yang membantu tubuh memerangi infeksi. Radikal bebas yang lain, seperti Nitric Oxide (NO) merupakan dasar homeostasis di dalam tubuh, karena NO berperan penting, termasuk menjaga tonus vaskular, agregasi platelet, adhesi sel, dan lain-lain. Adapun hal yang diyakini menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas berasal dari berbagai sumber seperti kegiatan fisik, kimiawi dan alam. Faktor alam yang menyebabkan peningkatan radikal bebas adalah polusi, radiasi, faktor fisik adalah kehamilan, overtraining, gaya hidup yaitu merokok, minum alkohol, makanan buruk, kurang berolahraga, efek psikologis seperti stres, emosi, berbagai penyakit, faktor lain seperti obat-obatan, terapi radiasi (Iorio, 2007).

Pada keadaan sehat, tubuh dapat mencegah terbentuknya radikal bebas karena system pertahanan natural antioksidan tubuh, yang mempunyai kemampuan melawan aksi oksidan dari radikal bebas. Menurunnya efektivitas system tersebut menyebabkan defisiensi absolut atau relatif kadar antioksidan di dalam tubuh (Iorio, 2007).

Radikal bebas berpotensi bahaya karena cenderung mengisi orbit externa yang tunggal dengan elektron lain. Adanya dua elektron pada orbit yang sama merupakan kondisi energi yang stabil secara maksimal. Karena itu, ketika radikal bebas dekat dengan target molekul, yang mempunyai satu atau lebih elektron, seperti molekul dari asam lemak tidak jenuh (seperti asam arachinoid), radikal bebas tersebut akan segera menarik keluar elektron dari target molekul tadi. Karena efek aksi oksidan ini, radikal bebas tersebut akan kehilangan potensi berbahayanya, sedangkan molekul baru yang terbentuk akan dirusak dan menjadi radikal bebas yang baru, di mana bila tidak tersedia antioksidan, reaksi yang sama akan terjadi pada molekul lain seperti pada karbohidrat, lipid, asam amino, peptide, protein, nukleotid, asam nukleat dan lain-lain (Iorio, 2007).

Mekanisme yang paling umum terjadi di mana radikal bebas dapat melawan pertahanan antioksidan, radikal bebas tersebut akan menyerang komponen biokimia di dalam tubuh dan membentuk hydroperoksida. Dalam bentuk patofisiologi tersebut sel akan mulai memproduksi radikal bebas dalam jumlah banyak, dikarenakan stres eksogen (unsur kimia fisik dan biologi) dan/atau aktivitas metaboliknya (khususnya pada membrane plasma, mitokondria, retikulum endoplasma, dan sitosol), yang diantaranya terdapat radikal hidroksil (HOH) yang berbahaya, merupakan salah satu reactive oxygen species (ROS) yang paling berbahaya. Radikal hidroksil dapat menyerang setiap macam molekul (termasuk karbohidrat, lemak, asam amino, peptide, protein, nukleotid, asam nukleat dan lain-lain). Akibat dari proses ini, setiap molekul akan kehilangan satu elektron dan kemudian menjadi radikal. Setelah itu akan mulai terjadi reaksi rantai radikal, dikarenakan adanya molekul oksigen (melalui pernapasan), dan terbentuknya hidroperoksida (ROOH), sejenis Reactive Oxygen Metabolites (ROMs).

Walaupun Hidroperoksida termasuk jenis kimia yang relatif stabil, mereka juga berpotensi membentuk radikal bebas lagi dan dapat mengoksidasi target molekul yang lain. Setelah itu sel akan menarik keluar hidroperoksida di lingkungan eksternal seperti di matriks ekstraselular dan akhirnya di cairan ekstraselular, termasuk darah, cairan cerebro-spinal, cairan pleura dan lain-lain. Terbukti bahwa hidroperoksida bukan hanya penyebab atau tanda dari stres oksidatif (karena berasal dari sel) tetapi juga berpotensi menyebabkan kerusakan awal pada seluruh bagian tubuh (karena kemampuannya bersirkkulasi di cairan extraseluler) (Iorio, 2007).

Pelatihan fisik yang berat atau pelatihan yang tidak biasa akan menyebabkan cidera pada otot, pelepasan protein otot dan nyeri otot. Mekanisme terjadinya penundaan kerusakan otot setelah pelatihan fisik berat tidak sepenuhnya dimengerti, tetapi diperkirakan terjadinya cidera yang tertunda karena berhubungan dengan reaksi peradangan yang dipicu oleh infiltrasi fagosit yang disebabkan oleh stres mekanik yang berlebihan, terjadi peningkatan konsentrasi ion calcium intraseluler, dan stres oksidatif. Ada beberapa laporan mengenai apakah antioksidan dapat menurunkan kerusakan otot karena ditemukan peningkatan produk oksidatif secara signifikan pada otot yang mengalami pelatihan dan pada darah setelah pelatihan yang juga sebanding dengan parameter lain dari penundaan kerusakan otot (Wataru dkk, 2006).

Cidera oksidatif setelah pelatihan dapat dicegah dengan asupan antioksidan seperti vitamin C dan E, karotinoid, atau polifenols, tidak hanya selama pelatihan, juga sehari-hari. Sebaliknya, ada beberapa peneliti menunjukan antioksidan tidak mempengaruhi kerusakan otot dan respon peradangan yang disebabkan oleh pelatihan sangat berat. Salah satu kemungkinan penyebab hasil yang berbeda adalah karena efek antioksidan sepertinya berbeda pada kondisi pelatihan seperti intensitas dari stres mekanik dan asupan oksigen.

ROS (Reactive Oxygen Species) mungkin berhubungan dengan pemicu kerusakan otot. ROS terbentuk dari mitokondria dan endothel saat pelatihan melalui peningkatan pemakaian oksigen dari miosit dan proses iskemik reperfusi, yang menyebabkan invasi dari fagosit ke dalam otot setelah pelatihan melalui jalur peradangan redox-sensitif. Karena itu respon peradangan dapat dihambat jika produksi ROS selama pelatihan ditekan karena besarnya peran ROS sebagai pemicu kerusakan otot seperti pada pelatihan endurans yang lama bukan pada pelatihan resistensi. Sebaiknya mengkonsumsi beberapa antioksidan berbeda pada saat yang sama karena perbedaan unsur yang memberikan efek antioksidan,seperti larut air atau larut lemak, dan mereka dapat saling menyediakan elektron untuk mencegah terjadinya keadaan pro oksidan (Wataru dkk, 2006).

ROS berperan penting dalam terjadinya kerusakan otot karena pelatihan dan respon inflamasi otot akut. Radikal oksigen dibentuk melalui peningkatan neutrofil karena pernapasan yang penting dalam membersihkan jaringan otot yang rusak diakibatkan pelatihan dan mungkin juga berperan dalam terjadinya kerusakan lebih lanjut. Banyak olahragawan yang tertarik untuk menkonsumsi antioksidan untuk mengurangi respon peradangan dan penurunan fungsi optimal otot setelah pelatihan. Walaupun antioksidan mempunyai potensi mengurangi stres oksidatif otot selama masa setelah pelatihan, namun bukti-bukti untuk menunjang peran tersebut masih sangat terbatas. Sepertinya pelatihan dalam jangka waktu pendek dapat melindungi otot dari kerusakan akibat pelatihan dan peradangan tanpa perlu meningkatkan status antioksidan. Walaupun status antioksidan otot dapat ditingkatkan dengan pelatihan yang lebih lama, diet, ataupun asupan antioksidan, bukti bahwa antioksidan mengurangi kerusakan otot selama fase peradangan akut perlu diteliti lebih lanjut.
Pelatihan meningkatkan radikal bebas, yang secara alami akan merusak jaringan. Beberapa peneliti mempunyai teori bahwa kerusakan tersebut berperan menyebabkan nyeri otot dan mungkin kerusakan otot, yang terjadi saat pelatihan berat.

Berdasarkan teori ini, tetapi dengan bukti terbatas, beberapa antioksidan digunakan untuk mencegah nyeri dan kerusakan otot pada atlet, antara lain:
- astaxanthin dengan lycopene
- beta-caroten
- jus cheri
- Coenzim Q10
- Oligomeric proanthocyanidins (OPCs)
- Selenium
- Vitamin C
- Vitamin E (Bloomer dkk, 2005).

Untuk menyakini bahwa diet kita mengurangi kelelahan otot, kerusakan otot berbeda dapat dikurangi dengan nutrisi tertentu. Proses penggunaan oksigen untuk menghasilkan energi berpotensi menimbulkan efek samping buruk. Membran sel darah merah dan sel otot sangat rentan terhadap serangan radikal bebas. Sel otot dapat menjadi bocor, atau bahkan robek dan terbuka. Jika ini terjadi, enzim akan keluar dari dalam sel dan akan mempengaruhi kemampuan otot untuk berkontraksi. Selain itu, membran yang rusak tadi akan menarik neutrofil (jenis dari sel darah putih), dan membuat netrofil membentuk proses peradangan local ( Pidcock, 2003).

Beberapa penelitian menunjukkan akut dari pelatihan yaitu menimbulkan perubahan jumlah antioksidan didalam darah dan menunjukkan perubahan indikator dari lipid peroksidasi secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa terjadi stres oksidatif pada pelatihan. Karena pelatihan aerobik meningkatkan konsumsi oksigen, banyak studi menggunkan pelatihan submaksimal yang lama. Pelatihan tersebut akan menyebabkan kontraksi perpanjangan otot yang menyebabkan kerusakan serat otot dan meningkatkan peroksidasi lipid pada membran yang menyebabkan kerusakan angsung ataupun pembentukan radikal bebas yang berhubungan dengan invasi dari makrofag dan neutrofil (Clarkson dan Thompson, 2000).

Pelatihan meningkatkan pembentukan reactive oxygen dan nitrogen species (RONS) dan dengan adaptasi, dapat menurunkan kejadian penyakit yang berhubungan dengan RONS. Pelatihan tunggal, tergantung intensitas dan durasinya, dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan, menurunkan angka vitamin antioksidan, yang akan menyebabkan kerusakan oksidatif sebagai tanda dari adaptasi yang tidak sempurna. Peningkatan RONS dan kerusakan oksidarif merupakan pemicu dari respon adaptasi spesifik, seperti stimulasi dari aktivasi enzim antioksidan, dan meningkatkan perbaikan kerusakan oksidatif. Pelatihan yang teratur meningkatkan kemampuan untuk membentuk kompensasi terhadap stres oksidari, yang menyebabkan kompensasi berlebih melawan peningkatan produksi RONS dan kerusakan oksidatif. Pelatihan teratur menyebabkan adaptasi respon antioksidan dan sistem perbaikan, yang dapat menurunkan kerusakan oksidatif dan meningkatkan pertahanan terhadap stres ( Radak dkk, 2001).

Banyak bukti menunjukan bahwa radikal bebas berperan penting sebagai mediator dalam kerusakan otot dan peradangan setelah pelatihan berat. Telah dirumuskan bahwa pembentukan radikal bebas oksigen meningkat selama pelatihan dan mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen mitokondria dan transportasi elektron, memicu terjadinya peroksidasi lipid. Literatur menyatakan bahwa diet antioksidan dapat menetralkan peroksida yang dibentuk selama pelatihan, yang tadinya dapat mengakibatkan peroksidasi lipid, kini mampu medaur ulang radikal peroksil sehingga mencegah kerusakan otot (Clarkson dan Thompson, 2000).

Pelatihan meningkatkan radikal oksigen pada manusia. Pada orang yang tidak terlatih, usia lanjut, dan pada orang yang sistem antioksidannya tidak mencukupi, tingkat peningkatan peroksidasi lipid karena produksi radikal oksigen akan menyebabkan kerusakan otot. Banyak literatur menyatakan suplementasi Vitamin E atau C tidak mempengaruhi performa pelatihan submaksimal, kapasitas aerobik ataupun kekuatan otot. Akan tetapi, ada efek dari vitamin-vitamin antioksidan ini yang belum terungkap, karena penelitian sebelumnya mungkin tidak melakukan pemeriksaan yang memadai. Proteksi terhadap pembentukan radikal oksigen dan peroksidasi lipid dipelajari pada orang yang tidak terlatih yang melakukan pelatihan dan peningkatan respon fase akut terhadap pelatihan eksentrik pada subyek lebih tua yang tidak terlatih menunjukan bahwa vitamin E mungkin menguntungkan terhadap respon adaptasi terhadap pelatihan. Selain itu, keuntungan positif terhadap kesehatan dari pemakaian vitamin E dan C dapat memberi efek sinergis jika dilakukan bersamaan dengan pelatihan teratur (William, 2000).
Enzim antioksidan endogen juga berperan sebagai pelindung pada proses peroksidasi lipid. Penelitian (tikus dan manusia) menunjukkan peningkatan malondialdehye (produk dari peroksidasi lipid) yang berarti setelah pelatihan sampai kelelahan, and juga terjadi perubahan tingkat antioksidan dan aktivitas enzim antioksidan di dalam plasma. Pada manusia dan tikus yang diperlakukan pelatihan, aktivitas enzim antioksidan meningkat secara jelas. Pada kasus ini, peningkatan stres oksidatif dipicu oleh pelatihan akan dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas antioksidan, untuk mencegah terjadinya peroksidasi lipid. Satu penelitian pada manusia mnunjukkan bahwa diet dengan asupan vitamin antioksidan menunjukkan efek yang bagus terhadap peroksidasi lipid setelah pelatihan. Walaupun beberapa perbincangan mengenai hal tersebut masih terjadi, pertanyaan apakah vitamin antioksidan dan enzim antioksidan berperan sebagai pelindung terhadap kerusakan otot yang disebabkan karena pelatihan dapat dijawab secara jelas.

Penelitian pada manusia menunjukkan asupan vitamin antioksidan dapat direkomendasikan kepada individu yang melakukan pelatihan berat secara regular. Selain itu, orang yang melakukan pelatihan akan mendapat manfaat baik dibanding dengan orang yang tidak berlatih, di mana hasil dari pelatihan akan meningkatkan aktivitas dari sebagian besar enzim antioksidan dan keseluruhan aktivitas antioksidan. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk dapat memberikan informasi dan rekomendasi yang lebih spesifik untuk hal tersebut (Clarkson dan Thompson,2000).

Sel tubuh terus memproduksi radikal bebas dan reactive oxigen species (ROS) sebagai bagian dari proses metabolik. Radikal bebas ini akan dinetralisir dengan sistema pertahanan atioksidan yang melibatkan enzim seperter katalase, superoksida dismutase, glutatión peroksidase, dan sejumlah antioksidan non-ensimatik, termasuk vitamin A, E, dan C, glutatión, ubikinon dan flavinoid. Olah raga dapat mengakibatkan ketidak seimbangan antara ROS dan antioksidan, yang disebut dengan stres oksidatif. Banyak diet antioksidan dipasarkan dan digunakan oleh atlet untuk melawan stres oksidatif dari olah raga tersebut. Masih belum jelas apakah pada pelatihan berat, kebutuhan akan tambahan antioksidan dalam diet meningkat (Urso dan Clarkson, 2003).

Topik mengenai kerusakan otot yang disebabkan karena pelatihan banyak menarik perhatian di tahun-tahun terakhir. Banyak dipelajari strategi untuk meminimalisasi cidera akibat pelatihan resistensi berat. Selama 15 tahun terakhir, beberapa penelitian telah dilakukan yang berpusat pada peranan suplementasi nutrisi untuk menurunkan gejala dan tanda cidera otot. Beberapa, memperlihatkan hasil yang memuaskan, sedang banyak pula beberapa nutrien yang dilaporkan tidak memberikan pengaruhnya. Karena temuan yang beragam ini, maka rekomendasi penggunaan suplemantasi nutrisi yang bertujuan untuk menurunkan cidera otot menjadi popular dikalangan media fitness dan dunia atlet secara besar-besaran tanpa didasari oleh penelitian ilmiah. Nutrien tersebut meliputi antioksidan Vitamin C (Asam askorbat) dan Vitamin E (tocoferol), N-acetyl-cysteine, flavonoids, L-carnitin, astaxanthin, beta-hydroxy-beta-methylbutyrate, creatine monohidrat, asam lemak esencial, asam amino, bromelain, protein dan karbohidrat. Banyak perbincangan tentang artikel-artikel mengenai pengaruh berbagai macam nutrien terhadap kerusakan otot karena pelatihan resistan yang ada.

Berdasarkan ilmu pengetahuan terkini, maka dapat ditarik kesimpulan peranan suplementasi nutrisi dalam menurunkan gejala dan tanda kerusakan otot yang timbul setelah pelatihan beban yang berat yaitu : (i) berperan penting (Vitamin C, Vitamin E, Flavinoids dan L-carnitin); (ii) tidak efektif menurunkan kerusakan otot, hanya menurunkan beberapa gejala dan tanda; (iii) Sampai saat itu masih tidak jelas dosis optimal nutrisi tersebut (apakah dapat digunakan secara tunggal atau kombinasi); (iv) Masih tidak jelas masa prapenanganan optimal ; (v) efektifitasnya sangat spesifik pada individu yang melakukan pelatihan non beban. Karena penelitian yang masih sedikit, sulit untuk merekomendasikan dengan yakin terhadap penggunaan nutrisi tertentu yang hanya bertujuan untuk meminimalisasi gejala dan tanda dari kerusakan otot yang disebabkan oleh pelatihan beban (Bloomer, 2007).

Astaxanthin adalah Antioksidan yang sangat kuat didalam melawan radikal bebas dan sangat bermanfaat bagi peningkatan daya tahan pada latihan fisik

 (dikutip dari RISTIE DARMAWAN dalam ASTAXANTHIN MENCEGAH EFEK NEKROSIS DAN PERADANGAN OTOT PADA TIKUS YANG MENGALAMI OVERTRAINING, Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik, Program Pascasarjana Universitas Udayana, 2012)

Astaxanthin, Antioksidan Atasi Kelelahan, Kerusakan Sel dan Peradangan Otot

Seiring dengan meningkatnya kepedulian masyarakat akan hidup sehat, ilmu pengetahuan tentang anti penuaan terus berkembang. Berbagai usaha dilakukan orang untuk menunda proses penuaan. Orang ingin berumur panjang tetapi tetap sehat dan mempunyai kualitas hidup yang baik dalam menjalani hari tuanya.

Ilmu anti penuaan terus berkembang dengan berbagai penelitian yang semuanya ditujukan untuk mendalami tentang proses penuaan dan mencari pengetahuan tentang cara mengatasi dan memperlambat proses penuaan tersebut, yaitu mencegah penyakit, kesakitan, ketidakmampuan dan keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Ada 4 prinsip teori proses penuaan yaitu teori “ wear and tear “, teori neuro endokrin, teori kontrol genetik dan teori radikal bebas. Sampai saat ini diyakini ada 5 pilar ilmu anti penuaan yaitu : diet, nutrisi, suplementasi, olah raga, dan terapi sulih hormon. Olah raga atau pelatihan merupakan pertahanan pertama melawan proses penuaan. Dengan berolah raga fungsi tubuh dapat dipertahankan dan ditingkatkan walaupun umur bertambah tua (Goldman, 2007).

Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor resiko terhadap penyakit kardiovaskular, dan sejumlah penyakit kronik lainnya termasuk kencing manis, kanker (usus dan payudara), obesitas, hipertensi, kelainan tulang dan sendi (osteoporosis dan keradangan sendi), dan depresi. Mortalitas karena penyakit kardiovaskular dan kanker yang lebih rendah pada kelompok dengan pelatihan intensif, dan terjadi peningkatan resiko pada grup dengan aktivitas fisik rendah. Kebugaran fisik yang lebih tinggi menunda semua penyebab mortalitas primer yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular dan kanker (Darren dkk, 2006). Namun banyak orang tidak memahami cara berolahraga yang baik untuk kesehatan. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah overtraining.

Overtraining terjadi bila volume dan intensitas pelatihan melebihi kapasitas pemulihan tubuh yang akan mengakibatkan penurunan kekuatan dan kebugaran. Hal ini sering terjadi pada orang yang banyak melakukan olah raga endurans. Overtraining juga bisa menyebabkan kerusakan otot yang biasanya terjadi pada orang yang jarang melakukan olah raga, terutama jika yang melibatkan otot besar dan gerakan pelenturan otot (Clarkson dan Hubal, 2002). Olahraga yang bertujuan memperpanjang hidup dan kesehatan adalah aktivitas fisik yang dilakukan dengan semangat dan memenuhi syarat tertentu, tetapi bukanlah aktivitas yang berlebihan, bukan pula yang bersifat kompetitif tinggi dan dengan penyalahgunaan (Pangkahila, 2007).

Penggunaan otot yang berlebihan pada keadaan overtraining atau cidera otot dapat mengakibatkan respon peradangan (inflamasi) di mana terjadi invasi neutrofil yang diikuti dengan makrofag. Proses inflamasi ini terjadi juga pada mekanisme perbaikan, regenerasi dan pertumbuhan otot yang menyebabkan aktivasi dan proliferasi dari sel satelit, diikuti dengan diferensiasi akhir. Akhir-akhir ini mulai dilakukan penelitian untuk mengeksplorasi hubungan antara fungsi sel inflamasi dan kerusakan otot dan perbaikan otot dengan menggunakan tikus, hilangnya antibodi dari kumpulan sel inflamasi spesifik, atau terjadinya inflamasi pada otot setelah cidera (Clarkson dan Hubal, 2002).

Berdasarkan teori kemungkinan terjadinya kerusakan otot pada keadaan overtraining yang disebabkan penumpukan radikal bebas, maka dibutuhkan asupan antioksidan untuk mencegah kerusakan otot tersebut.

Radikal bebas merupakan salah satu bentuk senyawa oksigen reaktif, secara umum diketahui sebagai senyawa yang memiliki electron tidak berpasangan. Senyawa ini terbentuk di dalam tubuh, dipicu oleh bermacam-macam faktor. Pada proses metabolisme sering kali terjadi kebocoran elektron. Dalam kondisi demikian, mudah sekali terbentuk radikal bebas, seperti anion superoksida, hidroksil, dan lain-lain. Radikal bebas juga dapat terbentuk dari senyawa lain yang sebenarnya bukan radikal bebas, tetapi mudah berubah menjadi radikal bebas, misalnya, hidrogen peroksida (H2O2), ozon, dan lain-lain. Kedua kelompok senyawa tersebut sering diistilahkan sebagai Senyawa Oksigen Reaktif (SOR) atau Reactive Oxygen Species (ROS) (Iorio,2007).

Anti oksidan merupakan senyawa pemberi elektron atau reduktan. Senyawa ini mempunyai berat molekul kecil, tetapi mampu mengaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi, dengan cara mencegah terbentuknya radikal. Antioksidan juga merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Akibatnya, kerusakan sel akan dihambat (Iorio, 2007).

Ada banyak macam antioksidan di antaranya: vitamin E, vitamin C, carotenoid, polyphenols, flavonoids,dan yang lainnya. Astaxanthin adalah salah satu kelompok pigmen natural dari karotenoid. Di alam karotenoid dihasilkan sebagian besar oleh tanaman dan golongan mikroskopiknya yaitu mikroalgae. Astaxanthin terbanyak dihasilkan oleh suatu mikroalgae Haematococcus pluvialis. Sumber lain adalah hasil fermentasi ragi merah muda Xanthophyllomyces dendrorhous atau ekstrak dari produk pigmen seperti udang Antarctic Krill (Euphausia superba). Selain dari alam astaxanthin juga dapat dihasilkan sintetis kimia, dan banyak digunakan sebagai makanan ikan. Astaxanthin memiliki molekul yang sama dengan famili karotenoid beta-karoten, tetapi sangat berbeda pada struktur kimia dan biologi. Astaxanthin menunjukkan potensi antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beta-karoten pada penelitian di laboratorium (Cysewski dan Lorenz,2000).

Dalam penelitian Ikeuchi dkk (2006), dilakukan penelitian dengan menggunakan dosis astaxanthin 1,2 mg/kg BB pada tikus, di mana terjadi peningkatan waktu renang sebelum terjadi kelelahan dibanding kelompok kontrol. Berdasarkan penelitian tersebut, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan astaxanthin dengan dosis yang sama, apakah juga dapat mencegah kerusakan otot yang disebabkan overtraining. Hasil penelitiannya adalah  tikus yang diberi pelatihan maksimal (overtraining) setiap hari dan pemberian astaxanthin 1,2 mg/kgBB pada tikus yang mengalami pelatihan maksimal (overtraining) setiap hari selama 30 hari, didapatkan simpulan sebagai berikut: 1. Terjadi nekrosis (kematian dini suatu sel pada jaringan hidup) dan peradangan pada m. gastrocnemius tikus yang mengalami overtraining . 2. Pemberian astaxanthin dengan dosis 1,2 mg/kgBB setiap hari selama 30 hari mencegah terjadinya nekrosis dan peradangan jaringan otot pada tikus yang mengalami overtraining.

Penelitian ini menunjukkan bahwa Astaxanthin sebagai antioksidan yang sangat kuat yang dapat melindungi kerusakan atau kematian dini sel (nekrosis) dan mencegah peradanagan jaringan serta meningkatkan ketahanan fisik.

(dikutip dari RISTIE DARMAWAN dalam ASTAXANTHIN MENCEGAH EFEK NEKROSIS DAN PERADANGAN OTOT PADA TIKUS YANG MENGALAMI OVERTRAINING, Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik, Program Pascasarjana Universitas Udayana, 2012)